Yudisium FPMIPA 2014/2015

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengumuman dapat didownload disini

Langkah untuk pendaftaran Yudisium:

1. Klik link berikut untuk pendafataran Yudisium online
Pendaftaran Yudisium

2. Apabila pengisian sudah lengkap dan sudah di “submit” atau “kirim” dapat mendownload dan kemudian mengisi form berikut
Formulir Pendaftaran Yudisium

3. Apabila pengisian sudah lengkap dan sudah di “submit” atau “kirim” dapat mendownload dan kemudian mengisi form berikut
Angket-Kepuasan-Mahasiswa 2015

4. Formulir pendaftaran dan angket kepuasan yang telah diisi, selanjutnya disetorkan pada bendahara bersamaan dengan pembayaran Yudisium.

AMPIBI Adakan Kuliah Umum Biotechnology “Inspiring Education With Biotechnology “

Madiun, 10 Juni 2014, Asosiasi Mahasiswa Pendidikan Biologi (AMPIBI) menyelenggarakan Kuliah Umum dengan menghadirkan native speaker Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., seorang wakil dekan bidang akademik dan kemahasiswaan anggota senat akademik UGM. Kuliah umum ini diikuti dengan antusiasme tinggi para mahasiswa Prodi Biologi dan PGSD IKIP PGRI Madiun.

Dalam kuliahnya, Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.S menjelaskan bahwa Biologi sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan alam telah dan akan terus berkembang seiring dengan perkembangan IPTEK. Biologi komputasional, Biologi antariksa dan Biomimetik akan menjadi peletak dasar perkembangan Biologi masa depan. Oleh karena itu kontribusi Biologi harus ditujukan untuk kemakmuran dan kesejahteraan manusia serta menjadi sarana/media pembentukan karakter bangsa. Bioetika diperlukan dalam pengembangan Biologi Terapan untuk menjamin keamanan dan keberlanjutan prinsip-prinsip kehidupan, serta menjamin kesejahteraan umat

Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.S juga memberikan kiat-kiat belajar sukses serta memotivasi para mahasiswa untuk mengisi hidup dengan ibadah (karya mulia).

formulir pendaftaran asisten praktikum

bagi mahasiswa yang ingin mendaftar asisten praktikum pada semester genap TA 2014/2015 dapat mengisi formulir berikut.formulir asisten praktikum

Jadwal Bimbingan Skripsi (Revisi)

JADWAL BIMBINGAN SKRIPSI

PENGUMUMAN PEMBAYARAN LABORATORIUM SEMESTER GENAP TA 2014/2015

Bagi mahasiswa yang mengambil praktikum semester genap ta 2014/2015 harap membaca pengumuman berikut

Yudisium FPMIPA 2014/2015

Informasi Yudisium FPMIPA IKIP PGRI MADIUN Semester Gasal 2014/2015 silahkan klik link: Yudisum FPMIPA 2015

FORMULIR DAN ALUR PENDAFTARAN PENELITIAN (revisi)

Bagi mahasiswa yang mengambil skripsi dan melakukan penelitian di laboratorium /memakai peralatan laboratorium harap mengisi formulir pendaftaran berikut FORMULIR PENDAFTARAN PENELITIAN

Publikasi Seminar Nasional SNPS UNS 2014

Implementasi Green Learning Method (GeLem) dalam Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Potensi Lokal di Wana Wisata Grape,

Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun

 

Muh. Waskito Ardhi1), Wachidatul Linda Yuhanna2), Sigit Ari Prabowo3)

1,2,3)Prodi Pendidikan Biologi, Fakultas PMIPA,

 IKIP PGRI Madiun

waskitoardhi@gmail.co.id

 

Pembelajaran sains sesuai hakikatnya harus meliputi proses, produk, dan sikap ilmiah. Pembelajaran mata kuliah Pendidikan Biologi di FPMIPA IKIP PGRI MADIUN memerlukan sumber/media, metode belajar yang relevan sesuai karakteristik bidang ilmu biologi. Pembuatan bahan ajar kontekstual menitikberatkan pada pengalaman mahasiswa dengan cara mengeksplorasi lingkungan riil. Wana wisata Grape memiliki tingkat biodiversitas tinggi sehingga relevan jika digunakan sebagai sumber belajar dan bahan pembuatan bahan ajar perkuliahan berbasis potensi lokal.  Penerapan green learning method merupakan sarana dari upaya untuk mengeksplorasi potensi SDA di wana wisata Grape melalui pengalaman langsung dan menumbuhkan kesadaran serta peduli terhadap lingkungan. Penerapan Green Learning Method (GeLeM) dapat dilakukan di wana wisata Grape dengan menggunakan potensi alam yang ada. Penerapan tersebut dilakukan dengan cara eksplorasi potensi alam yang relevan sebagai bahan ajar, reduksi, pembahasan dan penyusunan bahan ajar  bidang botani dan mikrobiologi berbasis potensi alam. Wana wisata Grape Madiun dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar mahasiswa dengan menggunakan Green Learning Method (GeLeM) dengan menggunakan potensi lokalnya yang berbasis natural resourches. Hasil eksplorasi menunjukkan terdapat 19  tanaman tingkat tinggi sebagai bahan ajar botani dan 3 isolat kapang uji tanah di area Wana Wisata Grape.

 

Kata Kunci : Green Learning Method, Bahan Ajar, Potensi Lokal


 

Pendahuluan

Pembelajaran memerlukan berbagai inovasi yang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa mengabaikan nilai kemanusiaan dan hakikat pendidikan. Pembelajaran Sains di Perguruan Tinggi idealnya mengacu pada Pendidikan Sains  Nasional  Amerika  (Rahman  et al. 2008) yang menyarankan agar dalam proses pembelajaran dosen  menyiapkan metode yang lebih memperhatikan  pada  keterampilan  teknik  pengambilan  keputusan,  teori,  dan  penalaran. Adapun  pengembangan  profesionalisme harus  memberikan  pengalaman  kepada  calon guru sehingga  dapat  membangun   pengetahuan,  pengertian,  dan  kecakapan. Carin dan Evans dalam Rustaman (2010), menyatakan bahwa sains mengandung empat hal yaitu produk, proses, sikap dan teknologi.

Kondisi riil dari pembelajaran biologi di Program Studi Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP PGRI Madiun sudah mencerminkan suatu pembelajaran sains sesuai hakikatnya yaitu pembelajaran yang tidak hanya mengutamakan produk tetapi juga proses serta sikap ilmiah. Akan tetapi dalam proses pembelajaran belum mengeksplorasi sumber belajar dari lingkungan atau alam sekitar. Mahasiswa kurang berinteraksi dengan lingkungan aslinya. Padahal pengalaman berinteraksi dengan lingkungan dalam mengeksplorasi secara langsung dilingkungan riil akan menjadi pengalaman yang sangat berharga dan menyadarkan kepada mahasiswa sekaligus dosen untuk mencintai dan merawat lingkungan.

Proses pembelajaran mata kuliah Pendidikan Biologi memerlukan sumber/media belajar yang relevan. Alam sebagai sebagai tempat atau rumah makhluk hidup secara otomatis akan menjadi objek kajian mahasiswa Pendidikan Biologi. Pembelajaran di alam merupakan pembelajaran yang kontekstual untuk memberikan gambaran secara riil objek kajian yang akan dipelajari.  Selain itu pembelajaran berbasis natural resourches memberikan nuansa positif untuk mengubah paradigma belajar dari tekstual menjadi kontekstual. Belajar tidak hanya di dalam kelas dengan menggunakan media cetak dan elektronik, tetapi juga dapat dilakukan dengan pendekatan observational learning berbasis alam. Pendekatan ini mendorong mahasiswa untuk untuk lebih memaknai metode ilmiah dan sikap ilmiah.

Green learning adalah metode pengembangan pembelajaran dengan mengajarkan tentang hakikat lingkungan kepada mahasiswa. Konsep green learning diinspirasi oleh adanya stagnansi di dalam mengembangkan sikap positif terhadap lingkungan hidup, kurangnya partisipasi dan peran dalam aktivitas-aktivitas lingkungan hidup. Lingkungan dan ekologi  mencakup bagaimana menjaga lingkungan, mencintai lingkungan ini, apa saja dampak buruk akibat rusaknya lingkungan dan pemanasan global.

Karakteristik lingkungan  yang berbeda memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi mahasiswa. Hutan yang merupakan sumber belajar lingkungan riil memberikan pengalaman yang membekas bagi mahasiswa untuk belajar dan mengekplorasi hutan sebagai tempat untuk belajar secara independen. Penerapan green learning erat kaitannya dengan konsep forest school. Murray (2005), menyebutkan bahwa sekolah hutan (forest school) dapat: 1) Mengembangkan kepercayaan diri dalam mendemonstrasikan dalam waktu dan ruang untuk belajar secara independen. 2) Mengembangkan  kemampuan sosial (social skills) dan kesadaran dalam kerja secara tim  meningkat serta siswa lebih aktif dalam berpartisipasi di dalam permainan 3) meningkatkan kemampuan dalam berbahasa dalam komunikasi, 4) meningkatkan partisipasi dan kemampuan dalam konsentrasi siswa meningkat, 5) Mengembangkan skill secara fisik dan motorik, 6) Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang lingkungan alami dan bertanggungjawab terhadap lingkungan (7) memberikan perspektif baru tentang bagaimana guru mengajar, mengamati siswa sesuai pengaturan yang diinginkan.

Wana wisata Grape Kecamatan Kare Kabupaten Madiun merupakan salah satu wana wisata yang mempunyai biodiversitas yang baik. Biodiversitas yang baik merupakan sebuah potensi yang dapat dikembangkan untuk mendukung proses pembelajaran Biologi. Wana wisata grape dapat digunakan sebagai bahan ajar yang relevan untuk pengembangan keilmuan. Penelitian penerapan green learning di Wana wisata Grape ini merupakan bentuk optimalisasi inventarisasi potensi lokal berbasis SDA yang tidak hanya sebagai wisata harian, tetapi juga sebahai laboratorium alam pengembangan pembelajaran.

Sumber belajar adalah segala daya, lingkungan, dan pengalaman yang dapat digunakan dan mendukung proses/kegiatan pengajaran secara lebih efektif dan dapat memudahkan pencapaian tujuan pengajaran/ belajar, tersedia (sengaja disediakan/ dipersiapkan), baik yang langsung/tidak langsung, baik konkrit/yang abstrak. Sumber belajar mencakup guru, bahan-bahan pelajaran/bahan pengajaran baik buku-buku bacaan atau semacamnya.

Tujuan dari penelitian ini adalah Mendapatkan informasi sumber daya alam wana wisata Grape kabupaten Madiun yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar perkuliahan Pendidikan Biologi.

 

Metode Penelitian

 

Penelitian ini dilakukan di wana wisata Grape Kecamatan Kare Kabupaten Madiun. Analisis data dan pembuatan bahan ajar dilakukan di Laboratorium Biologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Hasil pengamatan dianalisis dengan metode deskriptif dengan memaparkan hasil-hasil temuan dengan analisis yang mendalam.

Observasi dilakukan di wana wisata Grape kecamatan Wungu kabupaten Madiun dengan mengamati keadaan biodiversitas yang dapat digunakan sebagai bahan ajar perkuliahan biologi. Identifikasi dilakukan dengan cara mencatat hasil pengamatan dan membuat pencandraan karakter dari objek yang diamati. Inventarisasi data dilakukan dengan cara mengumpulkan semua data hasil pengamatan sehingga menghasilkan bentuk database secara umum. Clustering (pengelompokan data) dilakukan pada dua aspek yaitu botani dan mikrobiologi. Pengelompokan ini dilakukan dengan cara memilah data sesuai dengan karakteristik bidang tersebut. Pengelompokan dilakukan untuk mempermudah dan menspesifikkan analisis dan pembahasan. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan mengolah data kualitatif dari keadaan biodiversitas wana wisata Grape.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

 

Penerapan Green Learning Method merupakan salah satu inovasi metode pembelajaran. Metode ini memberikan kemudahan bagi dosen untuk penyusunan bahan ajar biologi. Mahasiswa dapat lebih mudah dalam menemukan bagian daripada materi pada bidang bidang biologi karena terlibat langsung melalui pengamatan pada tempat riil yaitu wana wisata Grape. Melalui kegiatan observasi yang melibatkan mahasiswa serta melibatkan bidang-bidang ilmu biologi sehingga observasi di wana wisata Grape, dosen dapat mengetahui potensi sumber daya alam tempat tersebut untuk menunjang penerapan strategi pembelajaran yang terpusat pada mahasiswa.

Dosen dan mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok untuk melakukan pengamatan terhadap sumber daya alam yang meliputi bidang botani dan mikrobiologi yang bermanfaat untuk sarana yang menunjang kegiatan perkuliahan mahasiswa perkuliahan. Adapun hasil eksplorasi bahan ajar di wana wisata Grape sebagai berikut:

  1. Botani (Spermatophyta)
    1. Angsana (Pterocarpus indicus)

Deskripsi :

Pterocarpus indicus hidup dengan daerah penyebaran tropis Asia. Tumbuhan ini memiliki bunga berwarna kuning, berbentuk malai terletak di ketiak  daun. Umumnya, pohon ini memiliki tinggi lebih dari 40 m, dengan diameter 1,5 – 2 m. Daun tumbuhan ini mengandung shamponin. Daunnya majemuk menyirip gasal. Buah polong bundar pipih, dikelilingi sayap tipis seperti kertas. Nama lain angsana adalah sana, sonokembang, nara, dan lain–lain. Manfaatnya banyak, antara lain kayunya sebagai bahan bangunan, sebagai pagar hidup dan pohon pelindung, getahnya juga dapat digunakan sebagai obat tradisional.

  1. Kecapi (Andorium koetjape)

Deskripsi :

Kulit buah tebal, buah berbentuk bulat, termasuk tumbuhan pohon, batangnya keras, biasa dikonsumsi tupai, buahnya hampir mirip dengan buah jambu mete, susunan duduk daunnya 3-3, tepi daun rata, tulang daun sejajar, daun tua lebih keras dan berwarna merah, berdaging tebal, terdapat 5-6 daging buah pada buahnya yang tebal-tebal, buah berbentuk bulat seperti piala, berwarna hijau. Buah buni mirip duku tapi lebih besar. Buah punya bulu – bulu halus. Tinggi tanaman ini sekitar 20 – 30 m, dengan diameter pohon kira – kira 90 cm, bergetah seperti susu. Bunga dalam malai di ketiak daun, berambut, menggantung sampai dengan 25 cm.

  1. Jamblang (Syzygium polycephaloides)

Deskripsi :

Tinggi bisa mencapai 20 m dan diameter 90 cm. Daun berhadapan, bertangkai 1-3,5 cm. Daun berbentuk bulat telur terbalik agak lonjong sampai jorong lonjong. Buah seperti jambu dengan daging buah warna putih, kuning kelabu sampai agak merah ungu, hampir tak berbau, dengan banyak sari buah, buahnya sepat masam sampai masam manis. Sering ditanam sebagai peneduh di pekarangan atau perkebunan.

  1. Jati (Tectona grandis)

Deskripsi :

Pohon dengan tinggi 9-11 meter, dengan diameter 0,9-1,5 meter. Daun bentuk elips lebar dan tipis, gugur jika musim kemarau. Bunga majemuk dalam malai besar, berisi ratusan kuntum bunga tersusun dalam anak payung menggarpu dan terletak di ujung ranting, jauh di puncak tajuk pohon. Buah bulat agak gepeng. Merupakan pohon yang berbatang lurus dan mempunyai kualitas tinggi.

  1. Kayu putih (Malaleuca leucadendra)

Deskripsi :

Pohon tinggi dengan kayu dapat diekstrak menjadi minyak kayu putih, merupakan anggota suku jambu-jambuan (Myrtaceae). Namanya diambil dari warna batangnya yang memang putih.

  1. Mangga (Mangifera foetida)

Deskripsi :

Daun lebat membentuk tajuk yang indah berbentuk kubah, oval atau memanjang. Bunga majemuk ini terdiri dari sumbu utama yang mempunyai banyak cabang utama. Kulit buah agak tebal berbintik-bintik kelenjar; hijau, kekuningan atau kemerahan bila masak. Daging buah jika masak berwarna merah jingga, kuning atau krem, berserabut atau tidak, manis sampai masam dengan banyak air dan berbau kuat sampai lemah. Tumbuhan berkayu yang mempunyai tinggi batang bisa mencapai tinggi 10-40 m.

  1. Kelengkeng (Dimocarpus longan)

Deskripsi :

Lengkeng juga disebut kelengkeng, matakucing, atau longan. Pohon lengkeng dapat mencapai tinggi 40 m dan diameter batangnya hingga sekitar 1 m. Berdaun majemuk, dengan 2-4(-6) pasang anak daun, sebagian besar berbulu rapat pada bagian aksialnya. Buah bulat, coklat kekuningan, hampir gundul, licin, berbutir-butir, berbintil kasar atau beronak, bergantung pada jenisnya. Daging buah (arilus) tipis berwarna putih dan agak bening.

  1. Duku (Lansium domesticum Corr)

Deskripsi :

Pohon berukuran sedang, tinggi mencapai 30 m dan gemang hingga 75 cm. Daun majemuk menyirip ganjil, gundul atau berbulu halus, dengan 6–9 anak daun yang tersusun berseling, anak daun jorong (eliptis) sampai lonjong. Bunga dalam tandan muncul pada batang atau cabang yang besar, menggantung, sendiri atau dalam berkas 2–5 tandan atau lebih, kerap bercabang pada pangkalnya. Buah buni yang berbentuk jorong, bulat atau bulat memanjang, bulu halus kekuning-kuningan dan daun kelopak yang tidak rontok.

  1. Lerak (Sapindus rarak)

Deskripsi :

Tumbuhan ini berbentuk pohon tinggi, besar. Tingginya mencapai ± 42 m dengan diameter batang ± 1 m. Daun bentuknya bundar telur sampai lanset. Perbungaan majemuk, malai, terdapat di ujung batang warna putih kekuningan. Bentuk buah bundar seperti kelereng kalau sudah tua/masak warnanya coklat kehitaman, permukaan buah licin/mengkilat. Biji bundar juga warna hitam. Antara buah dan biji terdapat daging buah berlendir sedikit dan aromanya wangi. Tumbuh liar di hutan-hutan pada ketinggian antara 450 sampai 1500 m dari permukaan laut.

  1. Mikrobiologi (Jamur)

Paparan data kapang yang telah ditemukan dari isolat tanah di wana wisata grape Kabupaten Madiun sebagai berikut:

  1. Aspergillus sp.

Koloni isolat A dan koloni isolate B dalam medium PDA warna permukaan koloni tersebut dapat dilihat pada gambar 3.1, 3.3 sedangkan warna balik koloni dapat dilihat pada gambar 3.2, 3.4

1

Gambar 3.1 Permukaan Koloni Isolat A Pada Media PDA  (Permukaan koloni tampak seperti tepung dan berwarna hitam)

Gambar 3.2 Warna Balik Koloni Isolat A Pada Media PDA (Bagian bawah koloni berwarna kuning di tengah (1) dan hitam pada tepinya (2)

Gambar 3.3. Permukaan Koloni Isolat B Pada Media PDA Keterangan : 1. Permukaan koloni tampak seperti kapas dan berwarna putih

Gambar 3.4 Warna Balik Koloni Isolat B (Bagian bawah koloni berwarna kuning di tengah  (1) dan putih pada tepinya (2).

Secara makrokospis koloni berbentuk hifa coklat  ukuran sedang, tekstur hifa halus  seperti serbuk. Pertumbuhan fungi cepat. Permukaan bawah  hifa berwarna coklat kekuningan. Secara mikrokospis konidiofor mempunyai panjang + 11 µm, kepala konidiofor berdiameter + 63 µm, mempunyai vesikel berwarna coklat dan konidia berwarna coklat  . Konidiofor bersepta. Berdasarkan pengamatan pada secara makroskopis isolat A dapat dilihat permukaan koloni seperti tepung, pada pertumbuhannya kapang membentuk koloni yang terpecah-pecah dan berwarna hitam, sedangkan pada bagian bawah koloni berwarna kuning dan tepinya hitam.

Berdasarkan pengamatan pada inkubasi secara makroskopis isolat B dapat dilihat permukaan koloni seperti kapas, pada pertumbuhannya kapang membentuk koloni yang terpecah-pecah dan berwarna putih dan jika tua akan berubah menjadi hitam, sedangkan pada bagian bawah koloni berwarna kuning dan tepinya putih. Hasil pengamatan secara makrokospis pada isolate A dan B maka diduga koloni tersebut adalah Aspergilus.

  1. Rhizopus sp.

1

Koloni isolat C dalam medium PDA warna permukaan koloni tersebut dapat dilihat pada gambar3.5 sedangkan warna balik koloni dapat dilihat pada gambar 3.6

2

Gambar 3.6 Permukaan Koloni  Isolat C (Keterangan : 1. Permukaan koloni tampak seperti tepung dan berwarna hitam keabu-abuan)

Gambar 3.7 Warna Balik Koloni Isolat C Pada Media PDA (1.  Bagian bawah koloni berwarna kuning di tengah dan 2. hitam keabu-abuan pada tepinya)

 

Deskripsi secara makrokospis koloninya berwarna seperti benang berwarna putih sampai kelabu hitam; bagian tertentu tampak sporangium dan sporangiofora berupa titik-titik hitam seperti  jarum pentul. Secara mikroskopis hifa tidak bersepta, berinti banyak dan mempunyai stolon serta rhizoid yang warnanya gelap jika sudah tua. Berdasarkan pengamatan secara makroskopis isolat C dapat dilihat permukaan koloni seperti tepung, pada pertumbuhannya kapang membentuk koloni yang terpecah-pecah dan berwarna hitam keabu-abuan, sedangkan pada bagian bawah koloni berwarna kuning dan tepinya hitam keabu-abuan. Hasil pengamatan secara makrokospis maka dapat diduga koloni tersebut adalah Aspergilus.

  1. Mucor

Koloni isolat H dalam medium PDA warna permukaan koloni tersebut dapat dilihat pada gambar 3.7 sedangkan warna balik koloni dapat dilihat pada gambar 3.8.

1

1

Gambar 3.7 Permukaan Koloni Isolat H (1. Permukaan koloni tampak menggunung dan berwarna abu-abu)

Gambar 3.8 Warna Balik Koloni Isolat H Pada Media PDA

Keterangan : 1. Bagian bawah koloni berwarna abu-abu gelap

Deskripsi

Berdasarkan pengamatan secara makroskopis isolat D dapat dilihat permukaan koloni menggunung, membentuk koloni yang padat dan berwarna abu-abu, sedangkan pada bagian bawah koloni berwarna abu-abu gelap. Hasil pengamatan kapang diduga adalah Mucor.

 

Kesimpulan

 

Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan Green Learning Method (GeLeM) dapat dilakukan di wana wisata Grape dengan menggunakan potensi alam yang ada. Penerapan tersebut dilakukan dengan cara eksplorasi potensi alam yang relevan sebagai penyusunan bahan ajar  bidang botani dan mikrobiologi berbasis potensi alam. Wana wisata Grape Madiun dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar mahasiswa dengan menggunakan Green Learning Method (GeLeM) dengan menggunakan potensi lokalnya yang berbasis natural resourches. Hasil eksplorasi menunjukkan terdapat 19 tanaman tingkat tinggi sebagai bahan ajar botani dan 3 koloni kapang dari hasil uji kapang tanah di area Wana Wisata Grape.

Daftar Pustaka

Azhar Arsyad. 2007.  Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grasindo Persada

Djohar. 2009. Basis “Nature/Object Study” dalam belajar MIPS dan Persoalannya. Seminar Nasional dengan tema “Biologi, Ilmu Lingkungan dan Pembelajarannya” Yogyakarta : FPMIPA UNY Press.

Fenrich. P. 2007. Practical Guidelines for Creating Instructional Multimedia Application. Fort Worth : The Dryden Press Horcourt Brace College Publishers

Grant, T and Littlejohn, G. 2009, Teaching Green – The High Schools Years : Hands On Learning in Grades 9-12, Toronto : Green Teacher.

Nuryani, Rustaman, et all. 2010. Strategi  Belajar Mengajar Biologi. Bandung : FPMIPA UPI.

Murray, R and O’Brien, L. 2006. A marvellous opportunity for children to learn: a participatory evaluation of Forest School in England and Wales. Forest Research, Farnham.

Rahman, 2010. Program Pembelajaran Praktikum Berbasis Kemampuan Generik (P3BKG) dan Profil Pencapaiannya. Studi Deskriptif  Pada Praktikum Fisiologi Tumbuhan Calon Guru Biologi. Jurnal Pendidikan dan Budaya Educare. 4, (1), 72-87.

Ruyani, A. 2012. Pengembangan Green Teacher, pemanfaatan potensi lokal ikan mungkus (Sicyopterus, Cynophalus) di Bengkulu Selatan sebagai sumberbelajar Biologi. Proceeding SNPS 2012. Surakarta : UNS Press

Massey. 2013. The Beneficts of Forest School. UK : Forest Education

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta

Publikasi Seminar Nasional Biodiversitas UNS 2014

Analisis Biodiversitas Pohon Di Wana Wisata Suryo Kabupaten Ngawi Sebagai Database Koleksi Plasma Nutfah Dan Konservasi

 

Wachidatul Linda Yuhanna1, R. Bekti Kiswardianta2, M. Soeprijadi Djoko Laksana3

1,2,3 Program Studi Pendidikan Biologi IKIP PGRI Madiun

Email: linda.yuhanna.wiguno@gmail.com

 

ABSTRAK

 

Hutan adalah salah satu ekosistem makro yang terdapat interaksi kompleks antar makhluk hidup di dalamnya. Wana wisata merupakan salah satu ekosistem yang bertujuan untuk pelestarian plasma nutfah dan konservasi. Tujuan penelitian adalah (1) Mengetahui biodiversitas pohon di Wana Wisata Suryo Kabupaten Ngawi sebagai database koleksi plasma nutfah. (2) Mengetahui hubungan biodiversitas tanaman dengan upaya konservasi lingkungan di Wana Wisata Suryo Kabupaten Ngawi. Metode yang digunakan adalah metode eksploratif yang dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menghitung indeks kemelimpahan (indeks Margalef) dan indeks diversitas (indeks Shannon Weiner).

Biodiversitas pohon di Wana Wisata Suryo Kabupaten Ngawi menunjukan nilai indeks kemelimpahan 6,42 yang berarti kriteria kemelimpahan baik. Nilai indeks diversitas 2,95 yang berarti kriteria keragaman tinggi. Jumlah total spesies sebanyak 942 spesies. Pohon yang paling mendominasi adalah Kesambi (Schleichera oleosa (Lour) Oken), Angsana (Pterocarpus indicus Willd.) dan Mahoni (Swetenia mahagoni). Ketiga jenis tumbuhan ini merupakan tumbuhan dengan daun lebat dan kanopi yang lebar, sehingga mampu menjadi peneduh dan habitat beberapa jenis Aves. Pohon yang menjadi koleksi khas Wana Wisata Suryo adalah Citradora (Eucaliptus citriodora Hock.), Glingsem (Eucaliptus alba), Pule (Alstonia scholaris), Laban (Vitex pubescens), Kepuh (Sterculia foetida L.), Segawe (Adenanthera paronia L), Trengguli (Cassia javanica), Wuni (Anthidesma bunius Spreng),  Cendana (Santalum  album Linn), Ingas (Semecharpus heterophylla) dan Gembilina (Gmelina arborea). Analisis biodiversitas pohon sangat berhubungan pada upaya konservasi karena dapat memberikan dasar kajian dan gambaran kondisi riil di lapangan untuk menentukan strategi, proses dan pengembangan konservasi lebih lanjut.

 

Kata Kunci : Biodiversitas, Wana Wisata Suryo, database, konservasi

 


 


PENDAHULUAN

Wana Wisata Suryo merupakan salah satu hutan yang terletak di Kabupaten Ngawi yang mempunyai fungsi sebagai wisata berbasis alam dan konservasi beberapa tumbuhan tertentu. Sampai saat ini belum dikaji secara komprehensif biodiversitas makhluk hidup di area tersebut. Pengelolaan belum mengarah pada penyusunan atau penambahan tanaman yang bertujuan untuk fungsi keseimbangan lingkungan dan konservasi.

Pengembangan konservasi di Wana Wisata Suryo Kabupaten Ngawi juga merupakan ecologi’s master plan yang harus dilaksanakan untuk menunjang fungsi hutan secara ekologi. Pengembangan pola konservasi juga harus memperhatikan komponen spesies di dalam suatu ekosistem, sehingga dapat diketahui interaksi yang muncul di dalamnya. Pengembangan konservasi diperlukan database komponen ekosistem, kemelimpahan spesies dan nilai diversitasnya. Semakin tinggi diversitas suatu ekosistem maka semakin besar pula nilai ekologi yang mendorong semakin banyaknya interaksi antar makhluk hidup yang mendiami ekosistem tersebut. Semakin kompleks komponen makhluk hidup, maka semakin meningkatkan keseimbangan lingkungan.

Biodiversitas dikelompokkan menjadi diversitas komposisional, struktural dan fungsi (Chuyong and David, 2011). Diversitas komposisional mencakup apa yang dikenal dengan diversitas spesies termasuk diversitas genetik dan ekosistem. Menjaga diversitas genetik sangat penting bagi eksistensi diversitas spesies, sedangkan menjaga diversitas ekosistem penting untuk menyediakan habitat yang diperlukan untuk mengonservasi berbagai spesies. Aaviks dan Lira (2009) diversitas struktural berkaitan dengan susunan spasial unit-unit fisik. Level tegakan, diversitas struktural dapat dikarakterisasi dengan jumlah strata dalam hutan, misalnya kanopi tumbuhan utama, subkanopi, semak, tumbuhan herba. Level bentang alam, diversitas struktural dapat diukur dengan distribusi kelas-kelas umur pada suatu hutan atau susunan spasial dari ekosistem yang berbeda. Diversitas fungsional merupakan variasi dalam proses-proses ekologi, seperti pendauran unsur hara atau aliran energi. Keanekaragaman genetik berhubungan dengan keistimewaan ekologi dan proses evolusi (Indriani et al., 2009). Adanya keanekaragaman yang tinggi akan menghasilkan kestabilan lingkungan yang mantap (Kainde, 2011 dan Kurniawan, 2008). Keanekaragaman ekosistem mencakup hubungan spesies beserta lingkungannya. Keanekaragaman ekosistem merupakan keanekaragaman hayati yang paling kompleks. Berbagai keanekaragaman ekosistem yang ada di Indonesia misalnya ekosistem hutan dan pantai, hutan payau (mangrove), hutan tropika basah, terumbu karang, dan beberapa ekosistem pegunungan, perairan darat maupun lautan.

Konservasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama (Sudarmadji, 2000). Konservasi adalah alokasi sumberdaya alam antar waktu (generasi) yang optimal secara sosial. Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan (Fachrul, 2007; Gibbson and Gregory, 2006).

Strategi konservasi nasional dilaksanakan dengan berbagai cara yaitu (1) Perlindungan sistem penyangga kehidupan (PSPK). (2) Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya secara insitu dan eksitu. (3) Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Kawasan pelestarian alam ataupun kawasan dilindungi ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan berbagai macam kriteria sesuai dengan kepentingannya. Hampir di setiap negara mempunyai kriteria/kategori sendiri untuk penetapan kawasan dilindungi, dimana masing-masing negara mempunyai tujuan yang berbeda dan perlakuan yang mungkin berbeda pula. Kategori klasifikasi kawasan dilindungi, dimana kategori pengelolaan harus dirancang agar pemanfaatan seimbang, tidak lebih mementingkan salah satu fungsi dengan meninggalkan fungsi lainnya.

Analisis biodiversitas wana wisata diperlukan sebagai bentuk pola konservasi in-situ dengan menggunakan konsep the real ecosystem. Kajian biodiversitas wana wisata bertujuan untuk mengetahui dominan species dan rare species yang dapat digunakan sebagai data analisis lingkungan, analisis lanjut konservasi, interaksi antar spesies dan data pendukung lainnya. Keanekaragaman  spesies  terdiri  dari jumlah spesies dalam komunitas (kekayaan spesies) dan kesamaan spesies (Kuswanda, 2008; Eilu et al, 2004). Keanekaragaman hayati juga merupakan variabilitas antar mahluk hidup dari semua sumber daya termasuk di daratan, ekosistem  perairan dan kompleks ekologis (Pitman et al, 2002; Dolezal et al, 2002). Keanekaragaman tanaman merupakan faktor yang mempengaruhi tingginya  keanekaragaman  individu-individu  yang  ada  didalamnya (Kurniawan et al., 2008; Onrizal et al.,2004). Semakin tinggi keragaman ekosistem dan semakin lama keragaman ini tidak diganggu oleh manusia, semakin banyak pula interaksi internal yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan stabilitas ekosistem.

 

 

 

METODE

Penelitian ini dilakukan di Wana Wisata Suryo Kabupaten Ngawi. Alat yang digunakan adalah GPS (Global Positioning System), kamera digital, rafia, meteran, alat tulis dan dekriptor tanaman. Cara kerja dari penelitian ini adalah 1) Menentukan lokasi pengambilan data. 2) Membuat plot-plot dengan ukuran 20×20 meter. 3) Mengukur ketinggian tempat 4) Mengamati dan mencatat biodiversitas tanaman tingkat tinggi. 5) Menghitung indeks kekayaan menggunakan indeks margalef sebagai berikut:

 

Keterangan :

d          : Indeks kekayaan jenis

S          : Jumlah jenis spesies

N         : Jumlah individu

 

Tabel 1. Kriteria Indeks Kekayaan

Indeks kekayaan Kriteria
>4,0 Baik
2, 5-4,0 Sedang
<2,5 Buruk

Sumber: modifikasi Jorgensen et al dalam Ariyanto (2012)

 

Indeks biodiversitas di hitung berdasarkan rumus Shannon dan Wiener (1949) dalam Kuswanda, 2008; Gibbson, 2006; Fachrul, 2007, yaitu:

 

Keterangan :

H’   = Indeks diversitas Shannon dan                      Wiener

ni       =  Indeks nilai penting jenis ke-i

N    = Jumlah indeks nilai penting semua jenis

 

Tabel 2. Kriteria Indeks Diversitas

Indeks kekayaan Kriteria
>2,0 Baik
≤2,0 Sedang
<1,6 Rendah
<1,0 Sangat rendah

Sumber: modifikasi Jorgensen et al dalam Ariyanto (2012)

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Biodiversitas flora yang diamati di Wana Wisata Suryo adalah biodiversitas dari pohon. Pohon merupakan komponen penting dalam suatu ekosistem hutan. Pohon memberikan fungsi ekologis, fungsi konservasi dan fungsi lainnya dalam mendukung kehidupan. Analisis database pohon di Wana Wisata Suryo bertujuan juga untuk mengetahui pohon apa saja yang terdapat di Wana Wisata Suryo dan bagaimana pola keragamannya.

Database ini merupakan komponen vital untuk melihat komposisi flora untuk berbagai keperluan seperti analisis vegetasi, potensi, konservasi dan keperluan lainnya. Data ini juga bertujuan untuk memberikan informasi kepada semua pihak tentang koleksi tumbuhan tingkat tinggi yang ada di Wana Wisata Suryo.

Tabel 3 menunjukkan terdapat 45 spesies dari berbagai famili. Pohon yang menjadi koleksi khas Wana Wisata Suryo Kabupaten Ngawi antara lain Citradora (Eucaliptus citriodora Hock.), Glingsem (Eucaliptus alba), Pule (Alstonia scholaris), Laban (Vitex pubescens), Kepuh (Sterculia foetida L.), Segawe (Adenanthera paronia L), Trengguli (Cassia javanica), Wuni (Anthidesma bunius Spreng),  Cendana (Santalum  album Linn), Ingas (Semecharpus heterophylla) dan Gembilina (Gmelina arborea). Koleksi ini berada di area selatan dari Monumen Suryo Ngawi. Tumbuhan tingkat tinggi koleksi tersebut secara khusus ditanam untuk keperluan konservasi dan pelestarian plasma nutfah dan tidak untuk keperluan produksi.

Ada beberapa tanaman yang ditanam secara khusus untuk kepentingan tertentu selain koleksi. Kepuh (Sterculia foetida L.) merupakan tanaman yang ditanam selain sebagai koleksi, juga berperan sebagai populasi penyangga untuk ketersediaan resapan dan sumber air serta penyangga dari bahaya longsor dan turunnya kondisi tanah. Gembilina (Gmelina arborea) secara umum berfungsi sebagai bahan baku pembuatan kertas. Namun di wana wisata suryo ini gemilina digunakan sebagai koleksi dan sumber plasma nutfah serta penyangga ekosistem sekitarnya.

Indeks biodiversitas merupakan salah satu dasar yang dapat digunakan sebagai analisis tingkat keanekaragaman suatu wilayah. Hal dapat digunakaan sebagai pemetaan lokasi penanaman tanaman untuk berbagai keperluan tertentu. Selain itu juga dapat digunakan sebagai dasar untuk mengkaji hubungan antar spesies, populasi dan ekosistem. Indeks biodiversitas yang menjadi objek pengamatan pada penelitian ini adalah lokasi wana wisata harian monumen suryo yang merupakan lokasi utama non koleksi

 

 

Tabel 3. Jumlah pohon di Wana Wisata Suryo Kabupaten Ngawi

Nama Indonesia Nama latin

Jumlah

H’

Akasia Acacia mangium

5

0,02781

Andong Cordyline fruticosa

20

0,08179

Angsana Pterocarpus indicus Willd.

133

0,2764

Asam Tamarindus indica

1

0,00727

Bambu Bambusa vulgaris

9

0,04443

Beringin Ficus benjamina

11

0,05197

Bougenvil Bougenvillea spectabillis

6

0,03221

Lanjutan tabel 3.
Duwet putih Sygyzium cumini

4

0,02319

Flamboyan Delonix regia

21

0,08479

Gembilina Gmelina arborea

12

0,05558

Gempol Nauclea orientalis L.

2

0,01307

Glodog Polianthia longiflora Sonn.

71

0,19486

Jambu alas Syzygium aqueum

1

0,00727

Jambu mete Anacardium occidentale L.

32

0,1149

Jati Tectona grandis L.f

85

0,21704

Johar Cassia siamea Lamk.

8

0,0405

Kamboja Plumeria sp.

12

0,05558

Kamboja merah Plumeria rubra L.

1

0,00727

Kayu putih Melaleuca leucadendra

2

0,01307

Kesambi Schleichera oleosa (Lour) Oken.

157

0,29863

Ketapang Terminalia cattapa L.

10

0,04825

Klumpit Terminalia edulis

2

0,01307

Lamtoro Leucaena leucochepala

1

0,00727

Mahoni Swietenia mahagoni

106

0,24582

Mangga Mangifera indica L.

11

0,05197

Mindi Melia azedarach L.

8

0,0405

Nangka Artocharpus heterophyllus Lam.

4

0,02319

Pilang Acacia leucophloea Willd.

6

0,03221

Pinus Pinus merkusii

8

0,0405

Ploso Butea monosperma

3

0,01831

Pucuk merah Syzygium oleana

21

0,08479

Pule Alstonia scholaris

1

0,00727

Salam Syzygium polianthum

2

0,01307

Sawo kecik Manikara kauki

16

0,06922

Segawe Adenanthera paronia L.

1

0,00727

Sengon buto Enterolobium cyclocarpum

26

0,09908

Sengon laut Albizia falcata

26

0,09908

Sepatu Hibiscus rosa-sinensis

11

0,05197

Sepreh Ficus retusa

4

0,02319

Sirsak Annona muricata L.

1

0,00727

Sono keling Dalbergia latifolia Roxb.

30

0,10977

Talok Muntingia calabura

5

0,02781

Trembesi Samania saman

11

0,05197

Trengguli Cassia javanica

2

0,01307

Waru Hibiscus tilliaceus

33

0,11741

 

942

2,95093

 

Indeks kekayaan menunjukkan kemelimpahan spesies dalam suatu lokasi (Ariyanto et al, 2012). Indeks kemelimpahan (Indeks Margalef) ini sebagai berikut:
= 6,42

 

Indeks kekayaan Margalef menunjukkan hasil 6,42. Hasil tersebut memenuhi kriteria baik yaitu diatas 4,0. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya komposisi spesies pohon di Wana Wisata Suryo sejumlah 45 jenis pohon di area non koleksi. Banyaknya komposisi pohon digunakan untuk berbagai tujuan diantaranya adalah sebagai peneduh, penyangga, hiasan dan habitat spesies tertentu. Pohon Angsana, Kesambi, Mahoni dan Trembesi berfungsi sebagai peneduh, karena Wana Wisata Monumen Suryo selain sebagai kawasan konservasi juga merupakan kawasan wisata harian yang digunakan oleh masyarakat umum untuk berkumpul, olahraga dan kawasan peristirahatan (rest area)  sehingga memerlukan jenis tanaman yang berkanopi lebar dan lebat.

Tanaman Sengon, Jati, Gembilina dan Johar merupakan beberapa jenis pohon yang berfungsi sebagai penyangga dan pemeliharaan tanah dan resapan air. Selain itu juga terdapat tanaman hias seperti Kamboja, Bougenvil, Pucuk Merah dan Bunga Sepatu untuk fungsi estetika di sekitar Monumen Suryo Kabupaten Ngawi. Kemelimpahan jenis flora khususnya tanaman tingkat tinggi tersebut merupakan perwujudan dari beberapa fungsi yaitu fungsi konservasi, ekologis dan estetika. Pohon yang paling banyak mendominasi di area ini adalah Mahoni, Angsana dan Kesambi yang merupakan jenis tanaman peneduh.

Indeks keanekaragaman (diversitas) merupakan ukuran kemelimpahan diantara spesies. Indeks keanekaragaman dihitung menggunakan indeks Shannon Weiner (1949) menunjukkan hasil 2, 95.

Hasil berdasarkan kriteria diversitas (Lee dalam Ariyanto et al., 2012) menunjukkan bahwa keragaman pohon di wana wisata suryo ngawi tergolong tinggi. Hal ini dapat dilihat dari sebaran jumlah pohon (tabel 4). Hal ini dikarenakan ada beberapa faktor diantaranya adalah faktor fungsi dan tujuan Wana Wisata Suryo sebagai hutan konservasi, ekologis dan wisata. Sehingga kondisi pohonnya juga beranekaragam terutama jenis pohon peneduh. Terdapat 942 spesies pohon dari berbagai famili merupakan kekayaan dan aset yang dimiliki oleh Wana Wisata Suryo yang dapat digunakan untuk kepentingan konservasi, ekologi dan wisata.

Keanekaragaman pohon merupakan indikator dari keseimbangan ekosistem yang terkait dengan populasi beberapa spesies lainnya (Eilu et al, 2004; Chuyong et al, 2011). Tingkat keanekaragaman pohon yang tergolong kategori sedang juga menunjukkan tingkatan interaksi antar makhluk hidup (Lu et al., 2010). Hewan yang banyak dipengaruhi oleh keberadaan pohon di wana wisata suryo adalah golongan burung (Aves) dan serangga (insekta), sedangkan kelompok hewan lain kurang begitu berpengaruh karena memang kondisi Wana Wisata Suryo hanya beberapa spesies hewan yang ada di dalamnya. Dominasi adalah spesies terbanyak yang mendiami suatu ekosistem tertentu. Di Wana Wisata Suryo spesies pohon yang paling mendominasi adalah kesambi, angsana dan mahoni. Ketiga jenis tumbuhan ini merupakan tumbuhan dengan daun lebat dan kanopi yang lebar, sehingga mampu menjadi peneduh dan habitat beberapa jenis Aves.

 

Keanekaragaman merupakan kekayaan alam yang tidak ternilai. Biodiversitas merupakan asset yang berguna bagi kehidupan seluruh makhluk hidup. Pentingnya pelestarian biodiversitas adalah untuk menghindari dari kepunahan. Berbagai kerusakan biodiversitas saat ini menjadi ancaman yang serius bagi kehidupan makhluk hidup lainnya, karena mengganggu siklus hidup dan keseimbangan ekosistem. Kehilangan biodivesitas secara umum juga berarti bahwa spesies yang memiliki potensi ekologi, ekonomi dan sosial mungkin hilang sebelum mereka ditemukan. Sumber daya obat-obatan, bahan kimia, tumbuhan tertentu yang bermanfaat yang dikandung oleh spesies liar mungkin hilang untuk selamanya. Kekayaan spesies yang terdapat di hutan dimungkinkan akan punah dan hilang jika tidak ada proses konservasi.

Strategi pengelolaan dan pengembangan konservasi tentunya harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pola diversitas suatu ekosistem. Pengetahuan mengenai persyaratan untuk melestarikan kebanyakan spesies (flora dan fauna) umumnya sangat minim, dan kemampuan untuk mengorganisasi program konservasi juga rendah. Sebagai akibatnya, konservasi sering direduksi menjadi melindungi areal di pusat-pusat diversitas dengan harapan bahwa diversitas genetik dan diferensiasinya juga terkonservasi. Pada kebanyakan spesies pohon, variasi genetiknya tinggi, tetapi tidak semua spesies harus dikembangkan untuk pemanfaatannya. Bila tujuannya terbatas, program konservasi yang pasti kemudian dapat ditentukan. Bila spesies digolongkan menurut tujuan program managemen, maka mereka yang nilainya terletak dalam fungsi non-produksi hanya dapat dikelola secara in situ dan direproduki secara alami. Oleh karena itu diperlukan database awal untuk mengetahui komposisi diversitas dari suatu ekosistem sebagai bahan kajian.

Adanya data awal komposisi ekosistem di Wana Wisata Suryo Kabupaten Ngawi  diharapkan dapat memberikan informasi dasar, sebagai langkah awal untuk memprogramkan rencana strategis konservasi, pelaksanaan dan proses pengembangannya. Database koleksi plasma nutfah juga dapat digunakan sebagai natural bank dalam mengkonservasi spesies tumbuhan tertentu yang termasuk dalam kategori langka. Selain itu juga dapat digunakan sebagai sumber pemuliaan untuk menghasilkan generasi unggul yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Arti penting analisis biodiversitas dan konservasi ini yang harus disadari bersama, sehingga proses pengelolaan wana wisata ke arah konservasi tidak hanya menjadi tanggungjawab Perhutani saja tetapi juga seluruh komponen masyarakat demi keberlangsungan makhluk hidup.

 

KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah biodiversitas pohon di Wana Wisata Suryo Kabupaten Ngawi menunjukan nilai indeks kemelimpahan 6,42 yang berarti kriteria kemelimpahan baik. Nilai indeks diversitas 2,95 yang berarti kriteria keragaman tinggi. Biodiversitas flora sangat berhubungan pada upaya konservasi karena dapat memberikan dasar kajian dan gambaran kondisi riil di lapangan dalam penentuan strategi konservasi, proses dan pengembangan konservasi selanjutnya untuk keberlangsungan hidup komponen makhluk hidup suatu ekosistem.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aaviks and lira. 2009. Agrotolerant and High Nature-Value Species-Plant Biodiversity Indicator Group in Agroecosystems. Ecological Indicators 9 (892-901)

Ariyanto, J., Widoretno S., Nurmiyati, ya saingAgustina P. 2012. Studi Biodiversitas Tanaman Pohon di 3 Resort Polisi Hutan (RPH) di Bawah Kesatuan Hutan (KPH) Telawa Menggunakan Metode Point Center Quarter (PCQ). Seminar Biologi, Sains, Lingkungan dan Pembelajarannya dalam Upaya Peningkatan Daya Saing Bangsa. UNS Surakarta

Chuyong G., David K. 2011. Habitat Specificity And Diversity Of Tree Spesies In African Wet Tropical Forest. Journal of Plant Ecology. Vol 212 1363-1374

Dolezal J., Srutek M., 2002. Altitude changes in composition and structure of mountain temperate vegetation a case study from western Carpathian. Journal of Plant Ecology 158(16) 201-221

Eilu, David and John. 2004. Density And Spesies Diversity Of Trees In Four Tropical Forest Of The Alberthine Rift, Western Uganda. Journal Diversity and Distribution Vol 10 303-3012

Fachrul M. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta: Bumi Aksara.

Gibbsons W.D and Gregory D.R. 2006. Ecological Cencus Techniques. Cambridge University: Chambridge University Press.

Indriani D.P, Hanita M, dan Zakaria.2009. Keanekaragaman Spesies Tumbuhan Pada Kawasan Mangrove Nipah (Nypa Fruticans Wurmb) Di Kecamatan Pulau Rimau Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Sains. Vol 12(3) 1-4

Kurniawan A, parikesit. 2008. Persebaran pohon di sepanjang faktor lingkungan di cagar alam pananjungan pangandaran jawa barat. Biodiversitas vol 9(4) 275-279

Kuswanda W and Antoko B. 2008. Keanekaragaman Jenis Tumbuhan  Pada Berbagai Tipe Hutan Untuk Mendukung Pengelolaan Zona Rimba Di Taman Nasional Batang Gadis. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5(4) 337-354

Lu, Yin, and Tang. 2010. Structure, Tree Spesies Diversity And Composition Of Tropical Seasonal Rainforest In Xishuangmaba South West China. Journal of Tropical Forest Science Vol 22(3). 260-270

Onrizal, Rugayah, Suhardjono.2004. Flora Mangrove Berhabitus Pohon Di Pohon Di Hutan Lingdung Angke Kapuk. Biodiversitas Vol. 6 (1) 34-39

Pitmann, and Terborg. 2002. A Comparison Of Tree Species Diversity In Two Upper Amazonial Forests. Journal of Ecology. Vol 83(11) 3210-3224

Sudarmadji. 2000. Vegetation Structure And Endhapic Factor Of Mangrove Forest In Baluran Natural Park East Java Indonesia. University of Los Banos.

Sudarmadji. 2004. Deskripsikan Jenis-Jenis Anggota Suku Rhizophoraceae Di Hutan Mangrove Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Biodiversitas Vol. 5 (2) 66-70

Terradas, Salvador, Vayreda and Lloret. 2003. Maximal Species Richness: an Empirical Approach for Evaluating Woody Plant Forest Biodiversity. Forest Ecology and Management  189 (241-249)

 

IMPLEMENTASI METODE INKUIRI TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI DITINJAU DARI SIKAP ILMIAH PADA MATA KULIAH ANATOMI TUMBUHAN

IMPLEMENTASI METODE INKUIRI TERHADAP PRESTASI

BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI DITINJAU DARI SIKAP ILMIAH PADA MATA KULIAH ANATOMI TUMBUHAN

 

Wachidatul Linda Yuhanna

Program Studi Pendidikan Biologi, FPMIPA IKIP PGRI Madiun

linda.yuhanna.wiguno@gmail.com

ABSTRAK

 

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pembelajaran Sains-Biologi yang masih menggunakan metode direct instruction. Mahasiswa kurang memiliki sikap ilmiah dalam mempelajari dan menganalisis konsep Sains-Biologi. Ketuntasan belajar mahasiswa baru mencapai 67,5%  dari target yang ditetapkan sehingga perlu adanya upaya peningkatan proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui implementasi sikap ilmiah terhadap prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Biologi. (2) Mengetahui ada atau tidaknya pengaruh metode inkuiri terhadap prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Biologi. (3) Mengetahui ada atau tidaknya pengaruh metode inkuiri terhadap prestasi belajar ditinjau dari sikap ilmiah mahasiswa pendidikan biologi. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 58 mahasiswa. Teknik pengumpulan data menggunakan metode tes dan observasi sikap ilmiah mahamahasiswa.

Analisis uji hipotesis menggunakan analisis varian (annava) dua jalur yang menunjukkan bahwa untuk sikap ilmiah   sebesar 3,43 dan  sebesar 4,038 sehingga  < . Keputusan uji hipotesis pada sikap ilmiah menyatakan bahwa  diterima   dan   ditolak. Metode inkuiri menunjukkan  sebesar 0,05 dan  sebesar 4,08 sehingga  <  . Keputusan uji hipotesis menyatakan bahwa  diterima   dan   ditolak. Interaksi antara sika ilmiah dan metode inkuiri menunjukkan bahwa   sebesar 0,04  dan  sebesar 4,038 sehingga  <  . Keputusan uji hipotesis adalah   diterima   dan  ditolak.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Tidak terdapat pengaruh sikap ilmiah terhadap prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Biologi. (2) Tidak terdapat pengaruh metode inkuiri terhadap prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Biologi. (3) Tidak terdapat interaksi antara sikap ilmiah dan metode inkuiri terhadap prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Biologi

Kata kunci: inkuiri, prestasi, sikap ilmiah